Ketika lendir berkurang

Agustus 24, 2007 oleh tebar

Apakah karena aku bertambah tua, tanyamu. Ada bersit gundah. Kukatakan tenang saja, itu biasa. Cumbuan rehat sejenak. Ruang nikmatmu menyempit, pintunya menutup, seperti menolak tamu yang dirindu, padahal aku tahu kau ingin sekali — aku pun sangat, sangat, ingin. Kering. Dipaksakan hanya datangkan iritasi. Dioral hanya akan semakin menguras cairan. Kita rehat. Berpelukan. Tukar cerita dan canda. Batangku mengerut dalam kesantaian. Tetapi nafsu berdua tak mau menipu. Putingmu mengeras lagi. Tititku ngeceng lagi. Aku tahu kau sedikit sisa takut kalau-kalau liang itu tetap kering. Kurasakan ada malu dan perasaan gagal dalam dirimu.

Kutenangkan dirimu dengan bisik mesra dan cumbu lembut agar semuanya mencair. Kubisikkan tentang saliva. Kau tersenyum, mengangguk. Dari kita berdua, kataku. Telapakmu kau basahi berkali-kali dengan ludahmu, lalu kau oleskan ke sana. Aku menambahi. Langsung dari mulutku.

Tibalah saat itu. Pelan, tak langsung mendesak. Sepucuk masuk, lalu keluar. Dua jarimu memegang tititku, memainkannya. Perlahan, melesak, keluar, masuk lagi, akhirnya pol. Seperti pertama kali kehilangan keperawanan, kataku. Betul katamu, tapi yang ini lebih lembut, katamu. Akhirnya lendir alamimu keluar bahkan membanjir. Aku ingin menambahi agar ruang berdinding lunak itu semakin tergenang oleh larutan rindu bersama. Aku sedang tak subur, katamu. Kukecup keningmu. Dalam hening tanpa napas tersengal dan tanpa teriakan jalang kita raih puncak bersama. Spermaku menggenangi liangmu. Sampai tumpah. Kita saling berterima kasih. Berciuman lama, saling meremas. Membiarkan penis mengendur dan tertolak keluar oleh memek yang semakin licin. Kubisikkan yang jarang kuucapkan: aku mencintaimu. Kau hanya mencubit hidungku, lalu mengelus kepalaku, dan kecup keningku. Seprei basah oleh cairan tumpah.

Belajar anatomi, jadi anak kecil lagi

Agustus 1, 2007 oleh tebar

Biarkan aku jadi anak kecil lagi, Enci. Belajar anatomi, kenali keindahan dan fungsi. Semua memek sama, katamu. Punyamu cantik, Enci. Semua perempuan punya, sama (kau tersipu). Tapi punyamu cantik, Enci. Masak sih sayang? (kau tetap tersipu). Punyamu bersih, merah, indah. Ah dasar pintar ngerayu (tersipu, dengan binar bahagia).

Pagi di kamar hotel, hadap jendela besar. Aku tengkurap, kau mengangkang. Di atas ranjang kupelajari, kukenali, setiap unsur dalam sentrum kewanitaanmu. Sering kulakukan. Kau pun tak keberatan. Padahal umumnya wanita kalau kemaluannya dipelajari bahkan oleh pasangannya sendiri….

Senang rasanya mengamati dan memainkan sedikit, saksikan liang yang secara bertahap tak hanya lembab tapi kian membasah, saksikan kelentit yang tadi malu-malu ingin bersembunyi akhirnya gagah mencuat seperti menantang kecupan lembut dan jilatan halus

Tanganku hilang

Juli 25, 2007 oleh tebar

Transit di Changi bersua Mey.Penerbangan lanjutan ditunda dua jam. Kita ngopi sambil browsing bareng. Ngobrol sana-sini. Tukar nostalgia, tanyakan kabar teman. Sampailah pada titik yang tak kuharapkan.

Kau ingatkan aku saat camping kelas 2 SMA dulu. Bu guru galak memergoki kita di pantai, tak terlalu jauh dari anak-anak lain yang juga duduk di pasir. Bu guru menjewerku. Perintahkan aku untuk menarik tangan, keluar dari balik jaketmu. Saat itu bra sudah kamu lepas. Tanganku mencari kehangatan di balik kaosmu. Aneh di luar dingin tapi susumu berkeringat, begitu juga ketiakmu yang saat itu tanpa deodorant. “Kalau hamil baru tahu rasa kalian!” hardik bu guru tanpa kedengaran anak lain.

Kau ingatkan itu dan aku malu. “Mukamu merah, kenapa?” kau meledekku sambil terpingkal-pingkal. “Kamu masih nakal, apalagi masih bujangan gini pasti tambah kacau,” katamu.

“Kamu juga masih lajang, berarti nakal,” kataku.

“Oh no, darling. I began as a conservative basically because you were a hardcore bajingan! Hihihi! Mestinya kita pacaran, tapi aku udah nggak ketarik sama kamu, lagian kamu juga nggak tertarik sama aku kan? Hihihi…”

“Kamu tetep cantik, Mey. Aku suka.”