Transit di Changi bersua Mey.Penerbangan lanjutan ditunda dua jam. Kita ngopi sambil browsing bareng. Ngobrol sana-sini. Tukar nostalgia, tanyakan kabar teman. Sampailah pada titik yang tak kuharapkan.
Kau ingatkan aku saat camping kelas 2 SMA dulu. Bu guru galak memergoki kita di pantai, tak terlalu jauh dari anak-anak lain yang juga duduk di pasir. Bu guru menjewerku. Perintahkan aku untuk menarik tangan, keluar dari balik jaketmu. Saat itu bra sudah kamu lepas. Tanganku mencari kehangatan di balik kaosmu. Aneh di luar dingin tapi susumu berkeringat, begitu juga ketiakmu yang saat itu tanpa deodorant. “Kalau hamil baru tahu rasa kalian!” hardik bu guru tanpa kedengaran anak lain.
Kau ingatkan itu dan aku malu. “Mukamu merah, kenapa?” kau meledekku sambil terpingkal-pingkal. “Kamu masih nakal, apalagi masih bujangan gini pasti tambah kacau,” katamu.
“Kamu juga masih lajang, berarti nakal,” kataku.
“Oh no, darling. I began as a conservative basically because you were a hardcore bajingan! Hihihi! Mestinya kita pacaran, tapi aku udah nggak ketarik sama kamu, lagian kamu juga nggak tertarik sama aku kan? Hihihi…”
“Kamu tetep cantik, Mey. Aku suka.”